
sumber gambar : merdeka.com
Pada umumnya kita percaya pada angka yang tertera pada alat. Misalnya Parameter suhu oven 200° celcius, maka kita percaya bahwa suhu di dalam oven adalah 200° celcius.
Lalu saat kita membuat kue, kemudian kue kita gosong, pada umumnya kita kemudian berpikir bahwa kita salah dalam menetapkan standard suhu oven. Atau saat kue kita sebagian gosong, kemudian kita berpikir bahwa adonan kita yang tidak baik.
Namun pernahkah kita curiga dengan pembacaan alat yang tidak baik ?? misalnya :
- Pembacaan alat 200° celcius , namun sebenarnya suhu didalam oven 250 °
- Atau suhu didalam oven tidak merata; dibagian penggir 200° celcius, namun dibagian tengah 250° Perbedaan suhu dalam oven dapat mengakibatkan kue kita menjadi gosong sebagian.
Kalau alat yang kita gunakan hanya berupa Oven untuk memanggang kue, tentunya hanya kerugian financial saja yang terjadi. Namun bagaimana jika parameter yang salah tersebut adalah incubator bayi ?? HASILNYA BISA SANGAT FATAL KARENA BISA BERAKIBAT PADA KEMATIAN BAYI. SEPERTI KASUS YANG PERNAH TERJADI DI RUMAH SAKIT.
Petugas rumah sakit bisa saja sudah melakukan prosedur dengan benar. Melakukan setting sesuai kebutuhan suhu bayi. Namun jika parameter suhu pada incubator ternyata tidak benar ? akibatnya akan menjadi fatal !!

Oleh karena itu sangatlah penting untuk kita melakukan pengukuran rutin AKURASI ALAT yang kita gunakan. Pengukuran akurasi dari suatu alat ukur kita kenal dengan istilah kalibrasi atau tera.
Pelaksanaan Kalibrasi :
Pengujian dilakukan menggunakan alat ukur dengan kepresisian yang lebih tinggi yang tertelusur ke standard National dan International, sehingga pembacaan alat di Jakarta, di Bandung, Di Sumatera, di Amerika, di Jepang, menghasilkan angka pengukuran yang sama.
Kalibrasi untuk kasus seperti incubator melakukan pengujian untuk mengetahui
- Penyimpangan rata-rata dari suatu alat, misalnya parameter alat 200° C , sedangkan rata-rata pengukuran menggunakan alat standar uji menyatakan hasilnya 220°C, maka dikatakan alat menyimpang + 20°
- Adanya Ketidakpastian, misalnya suhu pada ruangan oven tidak akan selalu sama 200° Sebagai contoh Alat standar uji yang dimiliki Sentral Sistem, memiliki kemampuan membaca pergerakan suhu setiap 1 detik, maka ketika kita memasang alat standar uji selama 5 menit, kita akan bisa mengetahui besaran pergerakan suhu per detik, sehingga bisa diketahui rentang perbedaan suhu selama 5 menit ( variasi total / Variasi Overall berdasarkan reff Acuan Standar internasional AS2853). Bayangkan bila suhu incubator dipasang/ Diset pada 35° C, rata-rata suhu pengujian bisa saja tepat 35°C, namun ternyata besaran pergerakan suhu adalah 30 ?C – 40 ?C (adanya variasi suhu dan ketidakpastian ), berarti bayi akan merasakan panas antara 30 ?C – 40 ?C atau 35°C ± 5 °C.

Grafik pembacaan pergerakan suhu per detik
untuk 10 titik lokasi pengukuran
- Keragaman suhu dalam satu ruang. Misalnya berapa besaran suhu di pojok kanan (atas, bawah, tengah), pojok kiri (atas, bawah, tengah) , di tengah ? Mungkinkah suhu di tempat bayi tidur lebih panas daripada suhu di bagian pinggir ? Oleh karena itu pengukuran suhu perlu juga dilakukan di 10 titik area yang berbeda di dalam satu ruang( jumlah titik sensor dihitung sesuai volume ruangan oven/incubator , reff AS 2853
Dengan memahami pentingnya melakukan kalibrasi parameter pada alat, maka kitapun bisa ikut berpartisipasi untuk menciptakan proses tanpa kesalahan. Apalagi jika kesalahan bisa berakibat fatal.
Regards

Add your comment